Saat Tulisan Ditolak Berkali-Kali : Bagaimana Seharusnya Kita Bangkit?
Pagi itu seperti biasanya aku bangun kesiangan lagi, alarm berbunyi entah yang sudah berapa kali. Ditengah gesekan bunyi kipas angin tua yang baling-balingnya setengah patah, mata ini perlahan terbuka.
Tiba-tiba notifikasi di Handphone berbunyi.
Ternyata, Email itu masuk jam 9 pagi. Isinya penolakan lagi. Katanya tulisanku ‘belum sesuai karakter media’.
Aku menutup layar dan bertanya: “Apa aku memang nggak cocok ya jadi penulis?”
Rasanya ingin lagi melanjutkan tidur. Mimpi yang dibangun semalam nyatanya hanya siluet gambar yang numpang lewat.
Kecewa, tidak percaya diri sampai ingin menyerah bersatu dalam pikiran.
“Apa aku memang nggak cukup bagus ya jadi penulis?”
Bagian 1 – Penolakan Yang Datang Berkali-Kali: Apa Masih Layak Aku Menulis?
Saat fase-fase umur 20 an sebagian orang mulai bingung arah hidupnya mau dibawa kemana.
Ada yang mau jadi tentara, PNS, polisi atau malah penulis? Disitu detik-detik arah hidup bakal kelihatan.
Waktu itu saat fase-fase semester akhir saat di perguruan tinggi aku bingung setelah ini mau ngapain yaaa? Padahal waktu itu skripsi aja belum selesai hihihi
Ditengah kesemrawutan pikiran dan tekanan akademik, muncul postingan di sosial media. Katanya gini “Menulis itu bisa jadi hobi yang dibayar loh”
Tanpa pikir panjang, langsung deh cari tau gimana caranya nulis dibayar. Ternyata, salah satu caranya dengan kirim tulisan ke media ternama.
Berbekal pengalaman ikut kelas gratis “writing class” dulu bikin aku inget kalau gak ada lagi kesenanganku yang punya peluang lebih selain nulis”
Padahal dulu ikut kelasnya cuma iseng karena ingin dilihat punya kegiatan dan dapat sertifikat heheh (jangan ditiru yak)!
Ngelihat orang lain pada keren-keren namanya bisa masuk halaman Google, rasanya pengen deh ikutan juga.
Yaudah, perlahan aku mulai menulis. Meskipun ga sampai 1.000 kata, langsung hasilnya aku kirim ke media itu. Dan yakk, pertama kali kirim tak kunjung dapat balasan.
Rasanya langsung kena mental saat itu, tapi langsung ingat nyanyian Bernadya……”Untungnya, hidup harus tetap berjalan….” Hihihi
Gak langsung nyerah, perlahan aku mulai perbaiki sedikit demi sedikit bahasa, ejaan hingga paragraf. Meskipun belum dilirik, menulis tetaplah menulis.
Seperti kata Mbah Pramoedya Ananta Toer “Menulislah, karena tanpa menulis engkau akan hilang dari pusaran sejarah”
Dari situ aku mulai merasa, kalau konsistensi itu perlu. Kirim tulisan dari satu media ke media lain jadi rutinitas harian. Ya, meskipun belum dilirik setidaknya kita harus mencoba. Ya gak sih?
Bagian 2 : Proses Belajar: Saat Aku Sadar Masalahnya Bukan di Penolakan, Tapi Strategi yang Salah
Belajar dari penolakan-penolakan yang terjadi. Tentu saatnya evaluasi, mulailah terpikirkan, apa ya penyebab tulisan ditolak malah ga dilirik sama sekali?
Ternyata benar kata-kata orang, “kalau ada yang tidak paham tanyakan, jangan malu-malu”!
Bak kata pepatah “Malu bertanya, sesat dijalan” Waduh,, jangan sampai tersesat deh.
Belajar dengan hanya modal kuota internet, disinilah tips-tips penulisan bertebaran. Setelah beberapa kali dapat email penolakan, ternyata aku sadar kalau menulis bukan cuma ide yang fresh, tapi ada struktur, gaya bahasa media harus dipertimbangkan
Pertama, struktur bahasa jadi pilar penting. Ternyata setiap media punya gaya penulisan yang tidak sama. Dari situ dapat mulai baca-baca tulisan penulis lain. Dengan memperhatikan polanya, gaya bahasa, paragraf pembuka sampai cara mereka menutup artikel punya ciri khas tersendiri.
Kedua, Investasi paling berharga memang paling pas untuk diri sendiri. Saat ini banyak kelas gratis, bootcamp singkat, E-Learning di industri digital seperti content writing sampai copywriting yang bertebaran.
Lewat kelas online ternyata banyak ilmu gratis yang jarang ditemukan pada umumnya dan hanya bisa didapatkan langsung dari pelaku utama.
Dari situ kita dapat belajar bagaimana memahami pembaca, memposisikan diri sebagai seorang yang butuh informasi, siapa target pembaca dan bagaimana menyampaikan informasi secara tepat.
Terakhir, konsistensi latihan menulis tak mungkin untuk dilewatkan. Dengan banyak latihan, hasil tulisan dapat lebih terarah. Bukan lagi asal kirim, tapi harus benar-benar cek kaidah penulisan, gaya bahasa sampai detail kecil seperti kesalahan ejaan.
Dari situ, rasa percaya diri perlahan mulai tumbuh kembali. Ada satu hal yang perlahan membuatku sadar. Menulis bukan hanya tentang perasaan, tapi juga soal teknik dan kesadaran.
Bagian 3 – Email Itu Sampai, Titik Balik itu Datang Untuk Pertama Kalinya
Proses demi proses dilalui, mulai dari perbaiki tema, judul yang buat orang klik tulisan, gaya bahasa sampai ejaan perlahan mulai membuahkan hasil.
Akhirnya, tulisanku yang pertama dibuat berhasil dilirik media. Rasanya bak dapat uang berlimpah saat itu (meskipun terkesan lebay hehehe).
Pada suatu hari, aku menerima email yang berbeda dari biasanya. Bukan penolakan, tapi ucapan terima kasih. “Selamat, Tulisan Anda berhasil di-publish.”
Meskipun ini terlihat sepele, namun aku membacanya berulang kali, memastikan ini bukan email salah kirim.
Itu adalah momen pertama kali tulisanku berhasil dimuat di media online nasional. Rasanya sangat menyenangkan melihat nama sendiri berada pada halaman Google dengan membawa suatu postingan yang positif tentunya.
Meskipun views artikel terbilang masih minim, ini cukup menjadi pembelajaran bagiku untuk evaluasi kedepannya.
Lewat pengalaman-pengalaman ini aku juga mulai belajar SEO dasar agar tulisan lebih mudah ditemukan di halaman Google.
Tapi bukan angka yang membuatku bangga. Yang membuatku bertahan adalah keyakinan bahwa aku tidak menyerah. Bahwa seorang penulis bisa gagal berkali-kali, tapi tetap menulis, tetap belajar, dan tetap mencoba.
Yaaa, keberhasilan sekecil apapun memang patut dirayakan. Mungkin bagi orang lain terlihat sepele, tapi bagi beberapa orang rasanya menyenangkan sekali.
Dari situ, aku merasa senang karena tulisan ku yang masih sangat sangat jauh dari kata sempurna dapat dihargai. Kata-kata yang masih terkesan aneh saat aku baca kembali ternyata masih bisa dihargai oleh orang lain hahaha.
Dari situ rasa percaya diri mulai muncul, gairah menulis seakan-akan kembali mencuat ke permukaan.
Bagian 4 – Refleksi dan Dukungan, Kamu Nggak Sendiri
Memang, penolakan-penolakan yang datang semata-mata itu bagian dari proses. Tujuan tak mungkin diraih dalam sekejap mata.
Ada tenaga, mental dan pikiran yang harus dikorbankan.
Penolakan bukan akhir dari segalanya, tapi awal dari sebuah perjalanan. Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa tahu kalau menulis bukan lagi curahan emosi semata tapi juga tentang strategi dan arah.
Dulu, aku pikir penulis hebat sekali kirim tulisannya langsung dimuat dan dibaca ribuan orang dalam sekejap. Tapi nyatanya banyak proses yang mereka lalui dan tidak terlihat oleh publik.
Mereka tidak pernah berhenti menulis, malah menulis menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari bagian jiwa mereka.
Bagi kamu yang sedang membaca tulisan receh ini, mungkin saat ini berada pada fase yang sama.
Mulai dari penolakan, pengabaian terkadang dialami. Hingga saatnya mulai bertanya-tanya : Apakah aku harus tetap menulis?
Jawabannya : “Ya, menulis bukan hanya sebagai puncak validasi, tapi titik dimana kamu mulai bertumbuh”.
Penolakan bukanlah sebuah akhir, tapi refleksi untuk kembali menatap langit yang lebih tinggi.
Tulislah, meski tak ada yang memperhatikan. Karena keyakinan pertama selalu datang dalam dirimu sendiri.
Ditulis oleh:
Mustain, Punya mimpi jadi seorang content writer untuk berbagi kisah dan pengetahuan dan ingin terus berkarya, meski sering menghadapi berbagai penolakan, tapi percaya bahwa menulis bukan cuma tujuan tapi perjalanan dan bahwa setiap penulis memiliki cerita yang layak didengar.
