Ternyata, Keadilan Hanya Impian Kosong: Resensi Buku Teruslah Bodoh Jangan Pintar
Sungguh, sebuah novel yang menggugah, menyadarkan pada fakta bahwa perlu mengorbankan segalanya demi menegakkan keadilan. Mengingat kebenaran belum tentu menang.
Novel ini menceritakan tentang tujuh orang ahli telah terpilih melalui seleksi ketat. Mereka dihadapkan pada kasus besar yang melibatkan orang-orang kuat. Persoalan tambang yang menghasilkan keuntungan triliunan rupiah, sekaligus mendatangkan kengerian dibaliknya.
Fokus cerita menyorot pembahasan di ruangan berukuran 3×6 meter yang berisi tujuh orang ahli tersebut. Kemudian ditambah dua orang aktivis selaku pihak penggugat dan dua orang lagi mewakili pihak tergugat.
Salah satu dari tujuh orang ahli yang diharapkan independen merupakan ketua komite dan juga pimpinan sidang, staf ahli kepresidenan bidang hukum. Di akhir cerita, dialah yang mengumumkan hasil keputusan komite atas sidang dengar pendapat mengenai izin konsesi proyek raksasa PT. Semesta Mineral &Mining.
Buku ini menyenangkan dan menyedihkan untuk dibaca. Ya, menyenangkan karena kuatnya daya pikat penulis dalam merangkai cerita. Sehingga, pembaca merasa perlu untuk terus membacanya hingga akhir. Menyedihkan? Tentu saja, sebab mengisahkan kegetiran yang dialami oleh mereka, orang-orang yang terdampak proyek pembangunan tambang.
Berbagai konflik terjadi di lokasi pertambangan, menyebabkan korban jiwa berguguran. Banyak kasus terkuak dari penjelasan para saksi yang dihadirkan. Mereka menceritakan sejarah pilu yang dialami. Fakta-fakta kelam yang membuat trauma berkepanjangan.
Sayangnya, derita mereka seolah tak berarti ketika Hotma Cornelius memenangkan pembelaannya. Seorang advokat ulung yang dibayar mahal oleh pemilik PT Semesta Minerals & Mining. Reputasinya terbentuk, menakutkan bagi lawan-lawannya.
Wajar kalau di kasus ini pun ia mantap sesumbar, “Aku, Hotma Cornelius, bukan karena alasan duit memutuskan menjadi pengacara pihak tergugat. Nurani terdalamku terpanggil. Proyek ini harus jadi. Konsensi harus diberikan kepada klienku”.
Lihatlah, betapa kokohnya mental sang pengacara. Lalu, bagaimana cara para aktivis menghadapinya? Mampukah mereka bertahan dari berbagai ancaman?
Tere Liye, penulis buku ini telah menyiapkan banyak kejutan. Pembaca akan termenung atas setiap kejadian yang tak terduga. Terkhusus bagi pembaca yang taat hukum, bersiaplah!. Tantangan ada didepanmu.
Informasi Buku
Judul: Teruslah Bodoh, Jangan Pintar
Penulis: Tere Liye
Penerbit: PT Sabak Grip Nusantara
Tahun Terbit: Cetakan ke-6, Juli 2024
Tebal Halaman: 371 hlm
ISBN: 978-623-88822-0-5
Penulis
Muhamad Taufik, lahir di Denpasar Bali. Petani dan penikmat buku. Kini, tinggal di Bantul DI. Yogyakarta.
