Kata Menjadi Senjata: Peran Penulis dalam Perubahan Sosial
Peran penulis dalam kehidupan masyarakat itu ada. “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari,” oleh Pramoedya Ananta Toer.
Quotes ini selaras dengan pembahasan pada artikel yang akan saya bahas, yakni seberapa besar dampak para penulis dalam perubahan sosial. Baik kamu penulis maupun bukan penulis jika penasaran dengan pembahasan ini, simak baik-baik.
Apa Saja Peran Penulis dalam Perubahan Sosial?
Para penulis pasti akan meninggalkan jejak pada setiap ruang tulisannya dimuat. Oleh karena itu, ada peran yang mereka lakukan tanpa pencitraan. Peran para penulis dalam perubahan sosial di antaranya sebagai berikut.
1. Menyuarakan Aspirasi yang Terpinggirkan
Penulis dapat bersuara melalui tulisan mereka baik dalam jenis karya tulis apa pun. Mereka mampu untuk menjadi garda terdepan bagi orang-orang khususnya kalangan bawah atau kalangan marginal yang terbungkam untuk bersuara.
Biasanya mereka mengangkat isu kesetaraan gender, ketidakadilan, dan diskriminasi. Merekalah yang berbicara lewat tulisan dengan harapan suara-suara yang mereka wakilkan dapat didengar dan diberi perhatian.
Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) menceritakan perjuangan Mike, seorang intelektual pribumi dalam membangkitkan kesadaran melawan penindasan kolonial Belanda abad ke-20.
Menyuarakan suara rakyat yang tertindas, menjelaskan peran kolonialisme, dan kekuasaan menyingkirkan aspirasi masyarakat biasa.
2. Pencatat Realitas
Sebagai seorang penulis, sudah seharusnya mencatat atau menuliskan dalam tulisan mereka kenyataan yang benar-benar terjadi baik dalam karya nonfiksi maupun fiksi. Apa yang benar-benar mereka lihat itu yang dituliskan.
Hanya saja penyampaiannya berbeda. Pada nonfiksi kenyataan diperkuat melalui data dan pada fiksi ada imajinasi serta majas yang digunakan supaya semakin dekat dengan isi tulisan mereka.
Salah satu contohnya datang dari Andrea Hirata dengan karya novel Laskar Pelangi yang mengisahkan kehidupan 10 anak untuk menempuh pendidikan jenjang SD dan SMP di sebuah sekolah Muhammadiyah di Belitung.
3. Penghidup Nilai-nilai yang Berlaku dalam Masyarakat
Pada zaman sekarang, banyak media yang terbuka sebagai tempat menetapnya berbagai tulisan. Para penulis memanfaatkan kesempatan ini untuk menuliskan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat sehingga banyak orang-orang tahu dan menjadi sadar.
Berdasarkan tulisan itu, nilai-nilai tersebut diterapkan oleh masyarakat dan hidup dalam kehidupan sosial mereka. Misalnya, nilai rohani, nilai moral, dan nilai kebenaran serta nilai guna.
Salah satu tulisan yang termuat dalam laman Gramedia. Berisi konsep dan nilai-nilai dalam masyarakat.
4. Advokasi dan Perlawanan
Penulis berperan sebagai tameng bagi orang atau kelompok yang tidak berdaya atau tidak memiliki akses ke ruang publik. Tulisan mereka berguna untuk melawan ketidakadilan yang terjadi di Indonesia. Tindakan ini akan memperkuat gerakan sosial.
Tindakan penyiraman air keras yang terjadi kepada Andrie Yunus, pembela Hak Asasi Manusia (HAM), para penulis mengangkat tindakan ini ke publik melalui karya tulis mereka. Kebanyakan dibuat dalam bentuk esai yang berisikan data.
Penulis turut membantu dan tidak tinggal diam supaya Andrie Yunus mendapatkan keadilan. Ada juga para penulis yang mengangkat kisahnya dalam sebuah postingan di media sosial yang berisi supaya pelaku ditangkap. Seperti itulah bentuk perlawanan mereka.
Peran Penulis dan Para Penulis Akan Tetap Abadi
Meminjam kata Pramoedya Ananta Toer “Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama tidak menulis ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah.” Para penulis yang raganya telah ditelan bumi tidak benar-benar hilang di dunia sebab jejaknya masih ada.
Peran penulis dalam perubahan sosial yang selalu membekas bila pun setiap perubahan akan terjadi, tetapi perjuangan mereka tetap memiliki jejak dalam setiap tulisan yang menjadikan kata sebagai senjata dalam menjalani setiap perubahan sosial.
Referensi
www.cnnindonesia.com/hiburan/20190808120356-241-419476/sinopsis-tetralogi-pulau-buru-karya-pramoedya-ananta-toer
e-perpus.smkmic-cibinong.sch.id/home/detail/laskar-pelangi-1671371479
BASADYA Jurnal Ilmu Bahasa, Sastra dan Budaya, Sastra Indonesia dan Perubahan Sosial: Refleksi Historis dan Kontemporer Volume 01 Nomor 01 (2025)
Penulis
Cindy May Siagian, pengarang fiksi dan penulis nonfiksi. Beberapa publikasi telah dimuat di berbagai redaksi. Ia menghadirkan tulisan yang menghibur dan memberi ruang refleksi bagi pembaca. Terhubung dan ikuti karyanya melalui akun Instagram @la_bel2e untuk menikmati ragam tulisannya.
