Literasi Sejarah: Mengintegrasikan Masa Lalu, Kini, dan Masa Depan
Generasi muda saat ini sering menganggap bahwa literasi sejarah sebagai hal yang membosankan. Alasannya karena berisi hafalan nama tokoh dan tahun terjadinya peristiwa bersejarah. Akibatnya, literasi ini terabaikan.
Minimnya literasi terhadap sejarah dapat menyebabkan kita mudah terjebak dalam arus disinformasi, krisis identitas budaya, dan tidak menjadikan masa lalu sebagai pelajaran. Simak dengan seksama artikel ini supaya kamu semakin paham.
Apa yang Dimaksud dengan Literasi Sejarah?
Menurut Nippi (2022), literasi sejarah adalah kemampuan untuk memahami, menafsirkan, dan menganalisis peristiwa dan narasi sejarah bagi individu yang mempelajari sejarah.
Artinya, literasi bukan hanya sekadar hafalan semata, melainkan juga memahami korelasi dari setiap peristiwa sejarah yang terjadi dengan menganalisis secara kritis.
Pentingnya Literasi Sejarah
Literasi yang satu ini memberikan beragam manfaat kepada orang perorangan dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ini, beberapa manfaatnya.
1. Membuat Orang Lebih Bijak
Saat seseorang berliterasi sejarah, orang itu mampu berpikir kritis dan menganalisis setiap suatu informasi yang didapatkannya sehingga lebih bijak dalam bertindak.
Selain itu, dapat membuat orang lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupannya sehingga dapat meminimalisasi kesalahan.
2. Membantu Mengetahui Identitas
Orang-orang terbantu untuk mengenali dan mengetahui identitas yang dimiliki. Mulai dari identitas keluarga, organisasi, dan negara. Identitas yang berkembang setiap waktu dapat menyadarkan setiap orang untuk selalu terhubung.
3. Menciptakan Struktur Kerja
Kemudian, dapat menjadi instrumen bagi setiap orang untuk menciptakan struktur kerja yang baik di masa kini atau masa depan dengan belajar dari masa lalu.
Misalnya, seorang ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) menjadikan Soekarno sebagai teladan. Ia mempelajari cara kepemimpinan sang pahlawan nasional tersebut. Lalu, merealisasikan pada kinerjanya.
Tampak bahwa ia menciptakan struktur kerja yang baik di masa kini dengan belajar sejarah tentang kepemimpinan Soekarno.
4. Menjadi Batu Loncatan
Peristiwa masa lalu yang terdapat dalam suatu sejarah, dapat digunakan sebagai batu loncatan dalam bertindak di masa kini atau masa depan sehingga tidak akan terjadi lagi kesalahan di masa lalu pada masa depan.
Setiap peristiwa sejarah menyimpan pembelajaran berharga. Bila mempelajari sejarah, kita bisa memahami kausalitas terjadinya suatu kesalahan, dampak yang dihasilkan, dan strategi mengatasinya.
Pengetahuan tersebut menjadi batu loncatan karena kita mampu menentukan langkah yang lebih tepat dan tidak mengulangi kesalahan di masa lalu.
5. Mengetahui Budaya yang Ada
Saat berliterasi, akan ada kebudayaan yang terkandung sehingga kita menjadi tahu apa saja keragaman budaya yang dimiliki Indonesia.
Sejarah mengandung banyak peristiwa. Pada peristiwa terdapat banyak kebudayaan yang masih dapat kita ketahui dan kita lihat sampai saat ini.
Contohnya budaya upacara adat Mangulosi dari Sumatera Utara yang dapat kita saksikan saat kita berkunjung ke wilayah Sumatera Utara.
Tantangan Meningkatkan Literasi Sejarah
Di samping adanya beragam manfaat dari wawasan sejarah, ada juga tantangan yang harus terjadi dalam meningkatkannya. Simak berbagai tantangannya di bawah ini.
1. Generasi Muda Kurang Antusias
Pada zaman yang serba digital sekarang, generasi muda kurang memberi perhatian terhadap literasi yang satu ini sebab mereka lebih tertarik terhadap teknologi. Perlakuan itu bukan tanpa alasan. Generasi muda cenderung memilih teknologi supaya tidak ketinggalan zaman.
2. Stereotip Literasi Sejarah Membosankan
Stereotip terhadap literasi sejarah yang membosankan karena berisi hafalan nama, tanggal, tempat sejarah membuat orang-orang terdoktrin. Lalu, tidak berpikir upaya untuk menerapkannya lebih seru dan tidak membosankan.
3. Tantangan Digitalisasi
Pada zaman yang serba teknologi, tidak menjamin meratanya digitalisasi arsip sejarah. Banyak konten sejarah di media sosial yang belum valid sehingga mengakibatkan disinformasi.
4. Dominasi Narasi Tunggal
Peristiwa sejarah masih banyak disajikan dengan sudut pandang tunggal. Akibatnya tidak ada keterpaduan dan keberagaman. Bahkan, dapat menimbulkan kesenjangan antara sejarah resmi dan sejarah komunitas.
5. Keterbatasan Akses dan Kualitas Sumber
Penggunaan buku sejarah sebagai sumber literasi sejarah masih ditulis dengan narasi yang kaku, kurang menarik, dan minim visualisasi. Kemudian, akses arsip, dokumen, dan literatur sejarah masih terbatas khususnya di daerah pedalaman.
Strategi Meningkatkan Literasi Sejarah
Tidak dapat dipungkiri bahwa wawasan sejarah di Indonesia masih minim. Oleh karena itu, sangat diperlukan strategi untuk meningkatkan literasi ini. Di bawah ini beberapa strategi yang dapat dilakukan.
1. Mempraktikkan Kegiatan Sejarah
Untuk menghilangkan rasa bosan saat berliterasi sejarah yang hanya mengandalkan buku saja, kita dapat bermain peran. Artinya kita dapat mempraktikkan peristiwa sejarah. Misalnya, memperagakan bagaimana manusia purba berburu.
Berdasarkan cara ini, kita langsung tahu bagaimana kehidupan manusia purba lebih detail karena kita menerapkannya langsung. Saat memperagakan, lebih banyak orang terlibat sehingga suasananya lebih seru.
2. Menggunakan Game Edukasi Sejarah
Era teknologi sekarang, sudah lebih mudah untuk menciptakan pembaharuan. Misalnya, menggunakan game edukasi sejarah supaya lebih menarik dan tidak membosankan.
3. Menggunakan Novel , Komik, dan Buku Biografi
Penggunaan novel dan komik lebih efektif ketimbang hanya mengandalkan buku sejarah saja. Umumnya kata-kata pada novel lebih santai dan menarik.
Komik yang memiliki banyak gambar dapat menjadi alternatif juga, sebab jika menggunakan gambar ketimbang hanya kalimat, lebih efisien penerapannya.
Bahkan, dapat ditingkatkan melalui penggunaan buku biografi. Lalu, untuk memperkuat ketajaman analisis maka perlu menggunakan literasi kritis.
4. Menggunakan Film
Penggunaan film dapat meningkatkan literasi kita terhadap sejarah sebab audio yang terdengar dan visual yang terlihat dalam suatu peristiwa bersejarah terasa lebih hidup dan dekat dengan kita.
5. Mengadakan Kunjungan ke Tempat Bersejarah
Tempat bersejarah ada banyak, seperti museum, candi, dan monumen serta tempat kebudayaan. Kunjungan ke tempat bersejarah, dapat membuat kita lebih jauh mengenal peninggalan atau jejak sejarah di masa lalu yang masih ada di masa sekarang.
Biasanya akan ada tour guide, nah kita bisa lebih jauh mengetahui tempat bersejarah yang kita kunjungi dengan bertanya lebih detail.
Literasi tentang Sejarah Penting Dibudayakan
Literasi sejarah bukan hanya sekadar pengetahuan akademis, melainkan sebuah budaya yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Apabila literasi ini dibudayakan, maka generasi muda akan lebih familier dengan masa lalu sebagai sumber inspirasi di masa sekarang.
Oleh karena itu, membudayakan literasi sejarah sama halnya dengan menjaga kelangsungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan sehingga bangsa dapat terus berkembang dengan fondasi yang terjaga.
Referensi
adminca.sch.id/literasi-sejarah/
Armiyati, Laely, Purwanta, Penguatan Literasi Sejarah Melalui Historical Inquiry: Belajar dari Singapura, Volume 5 Nomor 1 (2024)
Dipa Nugraha, Suyitno, Atiqa Sabardila, Adyana Sunanda, Pembelajaran Literasi Sejarah Memakai Cerita Pendek Historical Literacy Learning Using Short Stories, Volume 18 Nomor 1 (2025)
Kurniawati, Djunaidi, Ayuningtyas Rahman, Pamela Ayesma, Literasi Sejarah Melalui Bedah dan Diskusi Film Sejarah, Volume 4 Nomor 1 (2021)
Penulis
Cindy May Siagian, pengarang fiksi dan penulis nonfiksi. Beberapa publikasi telah dimuat di berbagai redaksi. Ia menghadirkan tulisan yang menghibur dan memberi ruang refleksi bagi pembaca. Terhubung dan ikuti karyanya melalui akun Instagram @la_bel2e untuk menikmati ragam tulisannya.
