Jurnal Ilmiah Bukan Beban Administratif: Sebuah Refleksi dari Pinggir Ekosistem Akademik
Ilustrasi: Syamsul Rizal / AI-Generated (Grok AI)
Penulis : Dr. Syamsul Rizal, SE., M.M. Dosen Akademi Keuangan Perbankan Nusantara (AKUBANK Nusantara), Aceh TimurPeneliti Manajemen Sumber Daya Manusia dan Ekonomi Perbankan
Saya memulai karier akademik saya bukan di universitas besar dengan perpustakaan megah dan dana riset yang berlimpah. Saya memulainya di Aceh Timur — sebuah kabupaten yang namanya jarang muncul dalam peta akademik nasional, tetapi menyimpan persoalan-persoalan ekonomi, sosial, dan kelembagaan yang sama kompleksnya dengan kota-kota besar yang sering menjadi objek riset para akademisi metropolitan.
Dari posisi pinggiran itulah saya belajar sesuatu yang tidak diajarkan di ruang kuliah mana pun: bahwa ekosistem publikasi ilmiah adalah cermin paling jujur dari kesehatan ekosistem akademik sebuah bangsa — dan bahwa cermin itu sedang memperlihatkan gambaran yang perlu kita renungkan dengan serius.
Dari Lapangan ke Jurnal: Perjalanan yang Tidak Linear
Lebih dari dua dekade meneliti perilaku organisasi, manajemen sumber daya manusia, ekonomi perbankan, dan dinamika kewirausahaan di Aceh telah mengajarkan saya satu hal yang fundamental: pengetahuan yang tidak didiseminasikan adalah pengetahuan yang mati.
Saya pernah melakukan penelitian tentang kepuasan nasabah mobile banking di Bank BCA Banda Aceh pada 2017 — sebuah topik yang pada saat itu masih relatif baru di Indonesia, jauh sebelum transformasi digital perbankan menjadi arus utama diskusi kebijakan. Penelitian itu diterbitkan di Jurnal EMT KITA dan disitasi 48 kali oleh peneliti lain. Bukan di jurnal Scopus. Bukan di SINTA 1. Tetapi dampaknya nyata — ia masuk ke dalam percakapan ilmiah yang lebih luas dan menjadi referensi bagi peneliti lain yang mengkaji topik serupa.
Pengalaman itu mengubah cara saya memandang publikasi ilmiah. Jurnal bukan sekadar wadah untuk memenuhi kewajiban BKD atau syarat kenaikan pangkat. Jurnal adalah infrastruktur diseminasi pengetahuan — dan seperti infrastruktur jalan atau jembatan, nilainya tidak diukur dari kemegahan tampilannya, tetapi dari seberapa banyak orang yang bisa memanfaatkannya.
Paradoks Ekonomi dalam Ekosistem Jurnal Nasional
Sebagai akademisi yang latar belakangnya adalah ekonomi dan manajemen, saya terbiasa melihat fenomena melalui lensa alokasi sumber daya dan insentif. Dan ketika saya melihat ekosistem jurnal nasional melalui lensa itu, saya menemukan sebuah paradoks ekonomi yang serius.
Data SINTA Kemdiktisaintek per Mei 2026 mencatat 15.456 jurnal terakreditasi dari 1.915 penerbit, dengan 331.407 penulis terdaftar dari 5.543 institusi. Ini adalah ekosistem yang besar — salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Namun distribusi perhatian, insentif, dan sumber daya dalam ekosistem ini sangat tidak proporsional.
Dari 15.456 jurnal itu, 10.580 jurnal atau 68,45% berada di SINTA 4 dan SINTA 5. Namun hampir seluruh kebijakan insentif akademik — dari poin BKD, kredit PAK, hingga persyaratan hibah penelitian — dirancang seolah-olah hanya 11,52% jurnal di SINTA 1 dan SINTA 2 yang layak diperhitungkan.
Dalam ilmu ekonomi, ini disebut market distortion — distorsi pasar yang terjadi ketika sistem insentif tidak mencerminkan nilai riil dari sumber daya yang ada. Dan seperti semua distorsi pasar, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh jurnal-jurnal yang terpinggirkan — dampaknya dirasakan oleh seluruh ekosistem.
Ketika Perbankan Mengajarkan Kita tentang Ekosistem
Izinkan saya menggunakan analogi dari bidang yang saya tekuni: perbankan.
Dalam ekosistem perbankan yang sehat, tidak semua nasabah adalah nasabah korporasi besar. Bank yang hanya melayani korporasi besar — mengabaikan UMKM, mengabaikan nasabah ritel, mengabaikan komunitas pedesaan — pada akhirnya akan menciptakan ekosistem keuangan yang rapuh dan tidak inklusif. Krisis keuangan 2008 mengajarkan kita dengan sangat mahal betapa berbahayanya ekosistem yang hanya berorientasi pada segmen teratas.
Hal yang sama berlaku untuk ekosistem jurnal ilmiah. Ekosistem yang hanya menghargai SINTA 1 dan SINTA 2 adalah ekosistem yang sedang membangun piramida terbalik — megah di puncak, tetapi rapuh di fondasi. Dan fondasi dari ekosistem publikasi ilmiah Indonesia adalah 10.580 jurnal SINTA 4 dan SINTA 5 yang melayani mayoritas mutlak dari 331.407 penulis terdaftar itu.
Saya telah menerbitkan penelitian di berbagai jurnal — dari IJER: Indonesian Journal Economic Review hingga Journal of Applied Economic Sciences, dari Jurnal Ilmiah Peuradeun hingga International Journal of Scientific Research and Management. Dari pengalaman itu, saya dapat bersaksi bahwa kualitas proses editorial tidak selalu berkorelasi dengan tingginya peringkat SINTA. Ada jurnal SINTA 4 yang proses peer review-nya lebih ketat dan lebih konstruktif dari beberapa jurnal yang mengklaim peringkat lebih tinggi.
Tiga Pelajaran dari Dua Dekade Meneliti di Pinggiran
Dua puluh tahun lebih meneliti dan menerbitkan dari Aceh — bukan dari Jakarta, bukan dari Bandung, bukan dari Yogyakarta — telah mengajarkan saya tiga pelajaran yang ingin saya bagikan kepada komunitas akademik Indonesia.
Pertama: Relevansi lokal adalah kekuatan, bukan kelemahan.
Penelitian tentang kepuasan nasabah di Bank BCA Banda Aceh, tentang kinerja koperasi di Provinsi Aceh, tentang perilaku konsumen di Banda Aceh — semua penelitian ini mungkin terlihat terlalu lokal bagi reviewer jurnal internasional. Tetapi justru karena relevansinya yang lokal dan spesifik, penelitian-penelitian ini mengisi celah pengetahuan yang tidak akan pernah diisi oleh peneliti dari luar. Dan celah pengetahuan yang terisi adalah kontribusi nyata pada ilmu pengetahuan — terlepas dari di jurnal mana ia diterbitkan.
Kedua: Konsistensi adalah bentuk integritas akademik yang paling mendasar.
Saya telah menyaksikan banyak jurnal lahir dengan semangat besar, lalu perlahan mati karena tidak mampu mempertahankan konsistensi penerbitan. Saya juga menyaksikan jurnal-jurnal seperti EMT KITA yang telah konsisten menerbitkan artikel selama lebih dari 11 tahun — melewati berbagai tantangan operasional, pergantian kebijakan akreditasi, dan tekanan dari berbagai arah. Konsistensi itu bukan sekadar pencapaian administratif. Ia adalah pernyataan nilai: bahwa pengetahuan layak untuk terus diproduksi dan didiseminasikan, tidak peduli seberapa besar tantangannya.
Ketiga: Kolaborasi lintas institusi adalah masa depan publikasi ilmiah daerah.
Tidak ada satu lembaga pun di daerah yang mampu membangun ekosistem jurnal berkualitas secara sendiri. Sumber daya terlalu terbatas, jejaring reviewer terlalu sempit, dan tantangan operasional terlalu besar. Model kolaborasi antarlembaga — seperti yang dibangun oleh jaringan jurnal yang menaungi lebih dari 20 jurnal dari Aceh — adalah model yang perlu menjadi inspirasi bagi lembaga-lembaga di seluruh Indonesia yang ingin membangun ekosistem publikasi yang berkelanjutan.
Yang Perlu Dibenahi: Perspektif Kebijakan
Sebagai akademisi yang juga terlibat dalam berbagai kegiatan pengabdian masyarakat dan pengembangan kelembagaan, saya ingin mengajukan beberapa catatan kebijakan yang saya rasa mendesak untuk diperhatikan.
Sistem insentif perlu direformasi. Kebijakan BKD dan PAK yang terlalu berfokus pada peringkat SINTA perlu diimbangi dengan pengakuan terhadap dampak dan relevansi penelitian. Sebuah artikel tentang pemberdayaan UMKM di daerah terpencil yang diterbitkan di jurnal SINTA 4 dan diimplementasikan oleh pemerintah daerah setempat memiliki dampak nyata yang jauh melebihi artikel metodologis yang diterbitkan di SINTA 2 tetapi tidak pernah dibaca oleh siapa pun di luar komunitas akademik sempit.
Program pendampingan perlu diperluas. Data ARJUNA periode 2022–2026 menunjukkan bahwa dari 45.119 total usulan akreditasi, 55,77% atau 25.161 usulan memiliki hasil evaluasi diri di bawah 70. Ini adalah sinyal bahwa kapasitas editorial masih menjadi hambatan struktural yang serius — dan bahwa program pendampingan yang sistematis, bukan hanya pelatihan sporadis, sangat dibutuhkan.
Infrastruktur digital perlu didemokratisasi. Akses ke sistem DOI Crossref, platform OJS yang terkelola dengan baik, dan jejaring reviewer internasional seharusnya tidak menjadi privilege eksklusif jurnal-jurnal dari universitas besar. Model shared infrastructure yang memungkinkan jurnal-jurnal kecil di daerah untuk mengakses infrastruktur digital berkualitas dengan biaya yang terjangkau adalah investasi kebijakan yang akan memberikan imbal hasil jangka panjang yang sangat signifikan.
Menutup dengan Sebuah Pertanyaan
Saya ingin menutup tulisan ini bukan dengan kesimpulan, tetapi dengan sebuah pertanyaan yang sudah lama mengganggu pikiran saya.
Kita sering berbicara tentang Indonesia Emas 2045 — visi Indonesia sebagai negara maju dengan SDM berkualitas tinggi dan ekonomi berbasis pengetahuan. Kita berbicara tentang pentingnya riset dan inovasi sebagai fondasi visi itu. Kita berbicara tentang perlunya meningkatkan jumlah paten, publikasi internasional, dan indeks inovasi nasional.
Tetapi apakah kita sudah cukup serius bertanya: siapa yang akan menghasilkan pengetahuan itu?
Bukan hanya peneliti di universitas riset besar di Jawa. Bukan hanya dosen dengan gelar doktor dari universitas luar negeri. Tetapi juga dosen di AKUBANK Nusantara di Aceh Timur. Dosen di kampus-kampus kecil di Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan Nusa Tenggara. Peneliti-peneliti yang bekerja dalam keterbatasan sumber daya tetapi memiliki akses langsung ke persoalan-persoalan nyata yang dihadapi masyarakat di daerah mereka.
Mereka membutuhkan ekosistem publikasi yang menghargai kontribusi mereka — bukan ekosistem yang secara sistematis mendorong mereka ke pinggiran karena jurnal yang mereka gunakan “hanya” SINTA 4 atau SINTA 5.
Indonesia Emas 2045 tidak akan dibangun dari puncak piramida saja. Ia akan dibangun dari fondasi yang kuat, luas, dan merata — dari seluruh penjuru negeri, termasuk dari pinggiran yang selama ini terlalu sering dilupakan.
Dr. Syamsul Rizal, SE., M.M. adalah dosen tetap di Akademi Keuangan Perbankan Nusantara (AKUBANK Nusantara), Aceh Timur. Bidang risetnya mencakup manajemen kredit, manajemen dana bank, perilaku organisasi, teori pengambilan keputusan, dan manajemen sumber daya manusia. Ia telah menerbitkan lebih dari 40 karya ilmiah yang disitasi oleh peneliti dari berbagai institusi nasional dan internasional. Ia dapat dihubungi melalui syamsulrizal@akubanknusantara.ac.id
Pandangan dalam tulisan ini adalah pendapat pribadi penulis.
