Ruang Literasi

Menentukan Sudut Pandang dalam Cerita, Bukan Sekadar ‘Aku’ atau ‘Dia’

Ketika sedang menulis cerita, kamu mungkin kamu pernah bertanya, “Mau pakai sudut pandang apa, ya?” Biasanya, langsung terlintas adalah dua pilihan klasik, pakai “aku” atau “dia”.

Tapi tahukah kamu, menentukan sudut pandang (POV) dalam menulis itu lebih dari sekadar memilih kata ganti? Saat kamu menulis cerita, sudut pandang ibarat kacamata yang dipakai pembaca untuk “melihat” kisahmu. 

Sudut pandang merupakan penentu seberapa dalam pembaca bisa merasakan emosi dalam cerita, loh!

Yuk, kenalan ulang sama beberapa jenis sudut pandang dalam cerita dan cara menentukannya!

Jenis-jenis Sudut Pandang dalam Cerita

Sudut pandang dalam cerita ada apa saja? Jika belum tahu, maka berikut ini macam-macam sudut pandang untuk cerita yang bisa digunakan!

1. Orang Pertama: Si “Aku” yang Dekat

“Aku” adalah sudut pandang yang paling personal, karena melalui kata ini kamu mengajak pembaca masuk langsung ke kepala tokoh.

“Aku tahu, malam itu aku menyia-nyiakan hal yang amat berharga bagiku.”

Sudut pandang ini banyak digunakan pada diary remaja, novel psikologis, atau kisah transformasi jiwa, dan sangat cocok untuk cerita yang fokus pada konflik pribadi, perjalanan batin, atau kisah yang emosional.

Namun, ingat bahwa pembaca hanya tahu apa yang “aku” tahu, sehingga kamu perlu mengatur alur dan informasi agar tidak menimbulkan kebingungan atau plot hole.

2. Orang Kedua – “Kamu” yang Tak Biasa

Ini salah satu POV yang jarang dipakai, tapi bisa sangat kuat dan unik karena pembaca digugu bagaikan tokoh utama.

“Kamu membuka pintu, dan dunia asing menyambutmu tanpa peringatan.”

Sudut pandang ini dapat membuat pembaca terbawa langsung ke dunia ceritamu. Biasanya cocok untuk cerita pendek, teks interaktif, atau eksperimen sastra. Namun, mempertahankan “kamu” sepanjang narasi panjang seringkali melelahkan, sehingga harus hati-hati agar tidak terasa aneh atau terlalu ‘memaksa’.

3. Orang Ketiga Terbatas: “Dia” yang Dekat Tapi Berjarak

Nah, kalau menggunakan sudut pandang ini, kamu tetap pakai “dia”, tapi hanya mengikuti satu tokoh secara mendalam. 

“Lia berhenti di depan taman itu, mengusap wajahnya yang penuh peluh.”

Dengan menggunakan “Dia”, kamu bisa membangun kedekatan emosional tanpa harus sepenuhnya “nyemplung” seperti orang pertama.

Sudut pandang ini cocok untuk cerita yang ingin menjaga jarak naratif tapi tetap memelihara intensitas, misalnya novel romansa atau thriller psikologis. Tapi, jangan sampai tiba-tiba masuk ke pikiran tokoh lain di tengah-tengah, karena bisa membuat pembaca bingung.

4. Orang Ketiga Maha Tahu: Sang Pengamat Segalanya

Sudut pandang ini ibarat kamu jadi dewa. Ibarat seorang sutradara, kamu bebas menyorot semua tokoh, membahas latar belakang mereka, bahkan menebak bagaimana masa depan cerita.

“Lia tak sadar bahwa dari meja sebelanya, seseorang sedang memperhatikannya dalam diam.”

Sudut pandang ini pas untuk narasi berskala besar, seperti novel sejarah, epik fantasi, atau kisah keluarga lintas generasi. Tapi tantangannya, kamu butuh mengontrol dan megendalikan alur serta transisi informasi dengan kuat, supaya pembaca tidak bingung berpindah dari satu kepala ke kepala lain.

Jadi, Harus Pilih yang Mana?

Tidak ada jawaban mutlak, dan ini bukan soal mana yang lebih bagus. Tapi, kamu bisa mulai dengan bertanya kepada dirimu dan ceritamu sendiri:

  • Siapa tokoh paling penting dalam cerita ini?
  • Apakah pembaca harus tahu isi hati tokoh?
  • Mau kasih kejutan di akhir, atau biarkan pembaca tahu lebih dulu dari tokohnya?
  • Cerita ini butuh nuansa personal, dramatis, atau luas dan kompleks?

Menentukan sudut pandang dalam cerita selalu merupakan hal yang penting dan krusial, karena beda sudut pandang, bisa beda juga cara pembaca merasakan ceritamu. Jadi, jangan takut mencoba. Terkadang, POV yang paling pas justru datang dari coba-coba kecil yang tidak kamu rencanakan, loh!

Referensi

Chen, M., & Bunescu, R. (2021). Changing the Narrative Perspective: From Deictic to Anaphoric Point of View (Preprint). arXiv. Sumber: doi.org/10.48550/arXiv.2103.04176.

Jahn, M. (2023). Narratology: A Pictorial Introduction. ResearchGate.. Sumber: www.researchgate.net/publication/369375369_Narratology_A_Pictorial_Introduction_video_PDF.

MasterClass Staff. (2025). Complete Guide to Different Types of Point of View: Examples of Point of View in Writing. MasterClass.  Sumber: www.masterclass.com/articles/complete-guide-to-point-of-view-in-writing-definitions-and-examples.

MasterClass Staff. (2025). Understanding Point of View: How to Choose a POV for Your Story. MasterClass. Sumber: www.masterclass.com/articles/how-to-choose-a-pov-for-your-story.

Ditulis oleh: Mahira I. Hanandhya

Kawan Pena Penulis

Tempat bagi para penulis pemula maupun berpengalaman belajar bersama dan meningkatkan kemampuan menulis. Yuk, kita belajar menulis bersama dan berbagi inspirasi melalui kata!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *