Creative Writing

Menulis Historical – Fantasy Speculative Fiction, Imajinasi Berbasis Mitos

Pernahkah kamu berpikir, “Bagaimana jika sebuah kerajaan kuno memiliki sistem kasta yang kejam, tapi juga punya kode kehormatan yang tinggi?” Atau, “Bagaimana jika dewa-dewi itu nyata, tapi mereka tidak peduli dengan doa manusia?”

Pertanyaan seperti itulah yang membentuk historical-fantasy dalam speculative fiction, sebuah genre yang mengambil sejarah dan membiarkan imajinasi mengisinya dengan sesuatu yang lebih dari sejarah yang sebenarnya.

Kalau sci-fi speculative bertanya ke depan, fantasy speculative fiction bertanya ke belakang. Dan justru di situlah ia punya kekuatan yang berbeda, sebuah daya tarik yang bersumber dari dunia yang diragukan eksistensinya, tetapi terasa seperti pernah ada.

Apa Itu Fantasy Speculative Fiction?

Fantasy speculative fiction adalah jenis fiksi yang menggabungkan elemen dari masa lalu, seperti sejarah nyata, mitologi, atau peradaban fiksi dari cerita rakyat, yang kemudian ditambahkan dengan lapisan spekulatif berupa sistem magis, makhluk mitos, atau struktur sosial yang sangat berbeda dari dunia nyata.

Setiap halaman mengandung pertanyaan, “Bagaimana jika?” yang membedakannya dari genre fantasi biasa yang lebih “bebas”. Bukan sekadar dunia ajaib, melainkan dunia yang konsisten secara internal, dengan logikanya sendiri, dengan harga atas setiap kekuatan dan kebebasan yang ada.

Seri A Song of Ice and Fire (1996 – ) karya George R.R. Martin membangun benua Westeros yang terinspirasi dari zaman medieval Inggris, lalu melapisinya dengan musim-musim yang tak terprediksi, naga, politik antar kerajaan, dan ancaman-ancaman magis dari penjuru dunia.

Trilogi The Lord of the Rings (1954 – 1955) karya J.R.R. Tolkien menciptakan bahasanya sendiri dan kemudian ditambahkannya dengan sejarah dan mitologi dunia Middle-Earth yang terasa seperti legenda ribuan tahun yang nyata.

Mengapa Genre Ini Begitu Kuat?

Fantasy speculative memberi penulis kebebasan yang tidak dimiliki genre lain, ia tidak terikat fakta sejarah, tapi bisa menyerap kebenaran emosionalnya. Dunia-dunia ini konservatif secara budaya, bukan karena penulis setuju dengan nilai-nilainya, melainkan karena nilai-nilai itu menciptakan tegangan dramatis yang organik dan subur.

Seri manga Berserk (1989 – ) karya Kentaro Miura, misalnya, menempatkan karakternya di dunia abad pertengahan gelap yang penuh hierarki, feodalisme, dan kekerasan sistemik, lalu menggali pertanyaan tentang takdir, trauma, dan kebebasan manusia di bawah tekanan sistem yang menghancurkan. Hasilnya bukan sekadar cerita aksi, melainkan karya yang meninggalkan bekas.

Ketika sistem budaya dalam cerita lebih konservatif dan lebih keras dari masa kini, gesekan yang muncul justru menjadi bahan bakar terkuat untuk karakter, konflik, dan tema yang bermakna.

Cara Menulis Fantasy Speculative Fiction

Sama seperti genre fiksi lainnya, proses menulis fantasy speculative fiction berpusat pada tiga hal. Menemukan ide besar, membangun dunianya, dan mengeksekusinya melalui karakter yang hidup.

1. Tentukan “Big Mythological Question” Sebagai Fondasi

Setiap fantasy speculative fiction yang kuat dimulai dari satu pertanyaan spekulatif tentang masa lalu, “Bagaimana jika dewa-dewa itu tidak pernah pergi, hanya berhenti berkomunikasi dengan makhluk di bumi?” Atau, “Bagaimana jika kerajaan paling kuat di duniamu dibangun di atas pengkhianatan yang tidak pernah diakui?”

Pertanyaan ini adalah kompas narasimu. Dari pertanyaan inilah, sistem magis, sistem kasta, hierarki kekuasaan, dan konflik utama ceritamu harus lahir secara organik, bukan ditempelkan belakangan.

Kuncinya adalah konsistensi internal. Jika magis di duniamu membutuhkan pengorbanan, atau harga yang harus dibayar, maka harga itu harus terasa nyata dan konsekuensinya harus dirasakan oleh karakter di setiap lapisan cerita.

2. Bangun Sistem Budaya yang Berpihak pada Tegangan

Fantasy speculative fiction yang paling berkesan tidak menciptakan masyarakat utopis. Ia membangun sistem yang punya logika internalnya sendiri, bahkan ketika sistem itu tidak adil, bahkan ketika tradisinya menindas, bahkan ketika kepercayaannya keliru.

Seri novel The Witcher (1993 – ) karya Andrzej Sapkowski membangun dunia di mana ras manusia mendeskriminasi elf dan dwarf, di mana penyihir ditakuti sekaligus dibutuhkan, dan di mana moralitas tidak pernah hitam-putih. Sistem ini terasa berat dan nyata, justru karena ia tidak sempurna, dan menjadikannya lebih reletable.

Pertanyaan yang harus terus kamu ajukan saat membangun dunia adalah: Siapa yang berkuasa? Dan atas dasar apa? Siapa yang tidak punya suara? Dan mengapa? Apa yang dianggap kehormatan? Dan berapa harga yang harus dibayar?

3. Magis Bukan Hiasan, Magis Adalah Struktur

Kesalahan paling umum dalam fantasy speculative adalah memperlakukan sistem magis sebagai alat plot semata, sesuatu yang muncul ketika cerita membutuhkan solusi, bahkan deus ex machina. Magis yang kuat adalah magis yang membentuk cara duniamu bekerja dari akar.

Di seri A Song of Ice and Fire, naga bukan sekadar senjata. Mereka adalah simbol kekuasaan dinasti, klaim legitimasi, dan bahkan krisis identitas, sebuah nuklir magis yang mengikat mereka dengan darah Old Valyria. Ketika naga punah, seluruh tatanan politik dunia Westeros ikut bergeser. Itulah magis yang berstatus struktural, bukan dekoratif.

Tanyakan pada dirimu, jika kamu harus menghapus elemen magis dari ceritamu, apakah cerita itu masih bisa berdiri? Jika iya, berarti sistem magismu belum cukup kokoh. Ia harus menjadi tulang punggung, bukan sekadar ornamen.

Spekulatif Bukan Berarti Sembarang

Di dalam fantasy speculative fiction, kebebasan untuk menciptakan dunia yang tak pernah ada bukan menjadi izin untuk tidak konsisten. Pembaca memaafkan naga, tapi tidak memaafkan logika yang patah di tengah cerita.

Riset tentang sistem feodalisme, mitologi, atau ritual kuno tidak harus hadir kata-per-kata di halamanmu. Namun, ia harus terasa di balik setiap keputusan yang kamu buat sebagai penulisnya.

Berlaku juga jika menggunakan iceberg theory, dari semua riset yang kamu lakukan, hanya sekitar 10% yang perlu tampil di halaman. Sisanya ada untuk membuat tulisanmu terasa hidup, nyata, dan kokoh.

Fantasy speculative fiction terbaik bukan yang paling akurat meramal seperti apa masa lalu itu, melainkan yang paling jujur berbicara tentang kebenaran manusia melalui lensa dunia yang tidak pernah ada.

Mulailah dari satu pertanyaan yang membuatmu tidak bisa berhenti berpikir, dan biarkan wawasanmu tentang historis dan imajinasimu untuk menjadi jawabannya.

Masa lalu yang diragukan eksistensinya, menunggu kamu untuk menuliskannya.

Selamat menulis!

Referensi:

www.writersdigest.com/write-better-fiction/4-tips-for-writing-historical-fantasy-fiction

www.writersdigest.com/write-better-fiction/on-history-historical-fiction-and-historical-fantasy

www.thenovelry.com/blog/historical-fantasy

kindlepreneur.com/how-to-write-historical-fiction/

www.quora.com/What-should-I-keep-in-mind-while-writing-a-historical-fantasy-novel-Also-is-it-okay-to-add-some-things-which-might-not-be-historically-accurate-in-this-genre

Penulis

Moch. Dicky Akbar adalah seorang pencerita yang melihat dunia melalui lensa unik, perpaduan antara visual yang tajam dan narasi yang mendalam. Ia telah membuktikan konsistensinya di dunia literasi dengan novel pertamanya, RESONANSI (2024).

Perjalanan kreatifnya dilatar belakangi kala ia melanjutkan studi di bidang Film dan Televisi. Pendidikan ini secara signifikan memengaruhi gaya penulisannya, yang kental dengan prosa liris, atmosfer sinematik, dan struktur cerita yang terperinci.

Pembaca yang ingin mengikuti perjalanan atau berinteraksi langsung dengan penulis dapat menemukannya di Wattpad, GWP (Gramedia Writing Project) dan Instagram dengan satu username yang seragam: @dickyackbar.

Kawan Pena Penulis

Tempat bagi para penulis pemula maupun berpengalaman belajar bersama dan meningkatkan kemampuan menulis. Yuk, kita belajar menulis bersama dan berbagi inspirasi melalui kata!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *