Bertahan Menulis Tanpa Tepuk Tangan
Menulis seringkali dimulai dari hal sederhana. Bukan dari keinginan untuk dikenal, melainkan dari kebutuhan untuk memahami diri sendiri. Aku menulis ketika hidup terasa sepi.
Di masa itu, kata-kata menjadi tempat singgah yang paling jujur. Menulis bukan soal menghasilkan karya yang sempurna, melainkan cara merapikan pikiran dan menata perasaan.
Melalui artikel ini, aku ingin menceritakan bagaimana aku bertahan menulis meski tanpa banyak apresiasi. Di dalam proses yang sunyi itu, aku belajar mengenali diri dan alasan tetap memilih kata-kata.
Menulis Ketika Tidak Ada yang Melihat
Aku pernah menulis sebuah karya berjudul “Ibu Tanpa Wajah”. Tulisan itu tidak diterima dengan baik oleh pembaca, bahkan sempat menjadi bahan tertawaan. Saat itu aku merasa sangat terpukul dan sedih.
Kesedihan tersebut sempat membuatku berhenti menulis. Aku meragukan diriku sendiri dan merasa tidak pantas untuk terus menulis. Hingga pada satu titik, aku memilih bangkit dan kembali menulis.
Aku melanjutkan menulis bukan karena yakin tulisanku akan dikenal. Aku menulis karena aku tidak ingin menyerah pada perkataan orang-orang yang tidak membawa kebaikan bagiku.
Perlahan aku menyadari bahwa tidak semua pendapat orang lain perlu kudengarkan. Terutama jika kata-kata itu tidak membangun, melainkan menjatuhkan dan melemahkan.
Menulis kemudian menjadi caraku untuk bertahan. Aku menjaga jarak dari penilaian yang melemahkan dan kembali percaya bahwa suaraku juga layak ada dan didengar.
Aku menulis di tengah minimnya apresiasi dan tanpa sorakan tepuk tangan. Aku mulai menulis saat rasa sedih datang dan kata-kata tidak mampu terucap.
Semua perasaan yang tidak tersampaikan akhirnya ku tuangkan ke dalam tulisan. Meski aku tahu tulisan itu mungkin tidak pernah dibaca oleh orang lain.
Banyak orang berhenti menulis bukan karena kehabisan ide. Mereka berhenti karena merasa tidak ada yang memperhatikan tulisannya.
Aku pun pernah berada di posisi itu. Aku sering bertanya pada diriku sendiri, untuk apa aku menulis jika hanya aku yang membacanya?
Namun, justru di fase inilah makna menulis diuji. Ketika tidak ada tepuk tangan, menulis mengajarkanku untuk tetap hadir meski sunyi.
Walaupun proses ini sering kali tidak nyaman, aku memilih menjalaninya dengan jujur dan terus bertahan bersama kata-kata.
Proses yang Pelan dan Tidak Selalu Mudah
Menulis mengajarkanku bahwa proses yang lambat bukan tanda kegagalan. Aku sering merasa tertinggal ketika melihat tulisan orang lain lebih cepat diterima dan diapresiasi.
Sementara itu, tulisanku berjalan pelan dan kerap kali diabaikan. Perasaan itu sempat membuatku ragu dan mempertanyakan kemampuanku sendiri.
Melalui proses yang tidak selalu mudah ini aku belajar memahami arah, mengenali batas, dan menerima bahwa tidak semua hal harus segera sampai.
Pengalaman ditolak dan diremehkan justru membentuk kesabaranku, hingga perlahan menumbuhkan ketekunan sedikit demi sedikit dengan cara yang lebih jujur untuk menuju keberhasilan.
Aku juga percaya bahwa semua ini merupakan rencana Tuhan. Setiap proses telah diatur dengan porsi masing-masing untuk membentuk diriku.
Pelajaran dari Bertahan Menulis
Proses menulis yang kujalani dalam sunyi perlahan membentuk pemahaman baru. Aku belajar bahwa nilai sebuah tulisan tidak selalu diukur dari banyaknya respons atau perhatian.
Kejujuran, konsistensi, dan kesetiaan pada proses justru memberi makna yang lebih dalam daripada pujian sesaat. Dari sanalah aku belajar untuk tetap setia menulis, meski hasilnya tidak selalu terlihat.
Menulis juga mengingatkanku bahwa keberanian tidak selalu hadir dalam bentuk tampil ke depan. Ada keberanian yang lahir saat aku memilih tetap menulis, meski ragu dan lelah.
Melalui ketidakpastian itu, aku belajar untuk terus berjalan. Aku belajar bertahan tanpa harus selalu terlihat atau diakui.
Pada akhirnya, menulis dan mungkin juga hidup tidak selalu tentang seberapa sering aku diakui. Ia lebih tentang seberapa lama aku mau bertahan pada sesuatu yang kuyakini bermakna.
Hal-hal yang bertahan dalam diam sering kali paling jujur membentuk diriku. Tanpa sorotan dan tanpa tepuk tangan, proses itu perlahan memberi makna yang menetap.
Bertahan menulis tanpa tepuk tangan bukanlah kegagalan bagiku. Ia adalah bentuk kepercayaanku pada proses dan pada diri sendiri.
Selama aku menulis dengan jujur, aku percaya kata-kata akan menemukan pembacanya pada waktu yang tepat.
Penulis
Penulis ini menulis sebagai cara bertahan dan memahami diri melalui kata-kata. Menulis menjadi ruang untuk merawat ingatan dan menata pengalaman hidup ku. Tema yang sering hadir dalam tulisanku adalah kesunyian, kehilangan dan kesetiaan pada proses. Nama Lengkap : Ledi Paulina Imlawel Instagram : @Lediimim
