[Bocoran Portofolio] Ngobrol Seru di Komunitas Kawan Pena: Ini Rangkumannya!
Membangun portofolio sering kali jadi tantangan tersendiri, apalagi bagi yang masih minim pengalaman. Tapi, apakah benar harus punya banyak proyek dulu baru bisa dilirik klien? Jawabannya ternyata tidak selalu begitu.
Hal inilah yang dibahas dalam sharing session Komunitas Kawan Pena bertajuk “Bocoran Portofolio: Trik Dilirik Klien Tanpa Harus Banyak Pengalaman” pada Sabtu, 25 April 2026. Kak Novia Nur Aliftiani sebagai pembicara membagikan pengalamannya untuk mengajak peserta memahami strategi cerdas menyusun portofolio yang tetap menarik.
Tanamkan Mindset Ini Dulu!
Sebelum mempelajari lebih jauh tentang portofolio, Kak Novia meminta peserta menanamkan beberapa pemikiran atau mindset penting.
- Banyak orang berpikir bahwa pengalaman tergantung berapa tahun seseorang menekuni suatu pekerjaan. Padahal, “pengalaman kerja” harus dipahami sebagai bukti kompetensi.
- Sebelum mulai membuat portofolio jangan memiliki ekspektasi terlalu tinggi. Misalnya beranggapan bahwa setelah portofolio selesai ditulis pasti akan langsung mendapatkan klien dan digaji besar. Ingat! Lebih baik eksekusi dan lakukan yang terbaik terlebih dulu untuk membangun portofolio.
- Fokus pada proses dalam membangun portofolio. Jangan fokus membuat portofolio yang sempurna. Percayalah, portofolio akan berkembang sendiri dan bisa di update seiring dengan bertambahnya job yang diterima.
Seperti Apa Anatomi Portofolio?
Portofolio terdiri dari beberapa bagian dan harus disusun secara terstruktur. “Portofolio yang terstruktur akan memudahkan klien memahami siapa kita, project apa yang yang pernah dikerjakan, hingga bagaimana klien menghubungi kita,” ujar Kak Novia.
“Anatomi portofolio itu penting, tapi tidak ada rumus dan bisa dimodifikasi,” lanjut Kak Novia menegaskan.
- Cover. Pastikan mencantumkan nama dan posisi (Content Writer/ Copywriter/ lainnya) dengan jelas. Penting juga mencantumkan tahun pembuatan portofolio untuk menunjukkan bahwa portofolio yang dibuat memang update.
- Profil Singkat. Bagian pertama yang bisa dimanfaatkan untuk membangun koneksi dengan klien. Tuangkan value atau nilai kita sebagai penulis.
- Skill dan Tools. Tulis beberapa skill dan tools yang dikuasai untuk menunjukkan kompetensi teknis yang dimiliki sebagai seorang penulis.
- Proyek Terbaik. Cantumkan judul, tugas/ tanggung jawab, hasil analisis (dampak), dan link proyek. Tidak harus mencantumkan banyak proyek, tapi pastikan menjabarkan proyek yang dipilih secara detail.
- Capaian/ Prestasi/ Sertifikat. Bagian ini tidak wajib, tetapi lebih baik dicantumkan untuk menarik perhatian klien. Misalnya, daftar brand atau klien yang pernah berkolaborasi, sertifikat, review atau tanggapan dari klien, komentar positif terhadap proyek, dan lainnya.
- Informasi Kontak. Tulis dengan jelas dan jangan sampai salah agar klien mudah menghubungi.
Trik Curi Start

Ingin mulai menulis portofolio sekarang juga? Tidak harus memiliki proyek besar terlebih dahulu. Lalu, bagaimana caranya? Kak Novia memberikan tiga tips di bawah ini, yaitu:
- Membuat dummy project secara mandiri. Pelajari berbagai contoh dummy project agar hasilnya lebih optimal.
- The Remake Challenge. Caranya dengan mengambil contoh copy atau content dari brand besar, kemudian lakukan modifikasi sesuai versi diri sendiri. Jelaskan alasan membuat content atau copy seperti itu!
- The Passion Project. Caranya dengan menulis content atau copy dengan topik yang paling diminati agar lebih mudah.
The Secret Formula
Berdasarkan pengalaman Kak Novia sebagai content dan copywriter sejak tahun 2021, ada beberapa “Secret Formula” atau tips mudah membuat portofolio.
- Storytelling terarah. Coba buat portofolio yang memuat masalah, solusi, kemudian hasil/dampak. Sajikan masalah dan solusi dengan kata, lalu berikan hasil/dampak dengan data.
- Adaptasi tren. Jangan takut tergantikan oleh AI, tapi penulis bisa berkolaborasi dengan AI untuk menghasilkan tulisan yang lebih optimal.
- Visual bersih. Portofolio sebaiknya memiliki tampilan layout yang bersih dan jelas agar lebih nyaman dilihat klien. Jangan gunakan layout yang terlalu ramai.
- Fokus atau klasifikasi bidang. Jika memilih fokus ke satu bidang, maka tampilkan proyek terbaik dengan penjelasan detail. Sedangkan jika menguasai beberapa bidang atau posisi, maka pisahkan dengan baik dan beri keterangan yang jelas.
- Jelaskan solusi di dalam portofolio agar klien yakin bahwa “kamu” bisa membantunya. Jangan hanya berusaha menarik klien dengan narasi-narasi panjang.
- Fokus pada outcome (dampak), bukan output. Misalnya, jangan hanya mencantumkan link artikel di portofolio, tetapi cantumkan dampak (data) dari artikel yang dibuat.
- Fokus ke kualitas isi portofolio dari pada kuantitasnya (panjang halaman).
Sesi sharing Komunitas Kawan Pena kali ini membantu para peserta memahami bahwa portofolio bisa dibuat saat ini juga oleh siapa saja. Tidak harus menunggu dapat proyek dari klien besar.
“Portofolio terbaik bukan yang hanya dipikirkan, tetapi dibuat dan diselesaikan,” ujar Kak Novia di akhir sesi sharing. Kak Novia juga mengajak para peserta untuk mulai membuat portofolio dan jangan insecure dengan kemampuan kita saat ini. Justru jadikan rasa insecure itu sebagai amunisi untuk terus semangat!
