Penggunaan Kata Wanita dan Perempuan, Mana yang Sebaiknya Dipilih?
Belakangan ini, saya sering membaca sebuah tulisan baik fiksi maupun nonfiksi. Ada sesuatu yang menarik perhatian saya, yaitu penggunaan kata wanita dan perempuan. Melalui bacaan itu, ada beranggapan bahwa kata wanita untuk yang memiliki anak melalui proses biologis.
Sementara itu, kata perempuan untuk yang belum memiliki anak. Anggapan ini menimbulkan pertanyaan bagi saya. Saya tidak ingin menggunakan kata yang salah dalam sebuah tulisan. Oleh karena itu, saya menemukan kata apa yang lebih baik digunakan.
Apa Beda Makna Kata Wanita dan Perempuan?
Ada banyak teori yang menjelaskan tentang makna dari wanita dan perempuan. Melansir dari oppal.co.id, secara etimologis kata wanita berasal dari bahasa Sansekerta, yakni “vanita” yang berarti “yang diinginkan”.
Melalui hal ini, wanita itu diibaratkan sebagai objek yang selalu diinginkan laki-laki untuk menyenangkan mereka. Kemudian, kata “vanita” terserap ke dalam bahasa Jawa yang disebut sebagai “wani ditoto” dimaknai sebagai “berani diatur atau berani dikata”.
Berdasarkan pengertian ini, wanita tampak rendah daripada laki-laki yang memiliki kekuasaan untuk mengatur wanita.
Di sisi lain, kata perempuan secara etimologis berasal dari kata empu yang berarti “orang yang mahir/ berkuasa ataupun kepala, hulu, atau yang paling besar. Lalu, diberi imbuhan per- dan -an menjadi perempuan. Kata ini dimaknai sebagai sosok yang mandiri dan berdiri sebagai subjek.
Akademisi Sudarwati dan D. Jupriono dalam artikel jurnal yang berjudul “Betina, Wanita, Perempuan: Telaah Semantik Leksikal, Semantik Historis, dan Pragmatik”, menuliskan bahwa kata perempuan bernilai cukup tinggi, tidak di bawah, tetapi sejajar, bahkan lebih tinggi daripada kata lelaki.
Kata perempuan berhubungan dengan kata ampu diartikan sebagai penyokong, penyangga, dan penjaga keselamatan serta wali.
Miskonsepsi Penggunaan Kata Wanita dan Perempuan
Penulis yang beranggapan bahwa kata wanita dan perempuan dibedakan berdasarkan status biologis harus membuang jauh-jauh pemikiran itu karena tidak ada data yang membenarkan anggapan itu.
Contohnya dalam suatu tulisan, Rania tidak lagi berstatus sebagai gadis karena ia sudah menjadi wanita anak satu. Setiap wanita memiliki perilaku unik tersendiri.
Selain itu, banyak juga penulis yang memadukan kedua kata antara wanita dan perempuan sehingga menimbulkan makna yang ambigu dan tidak konsisten. Pada akhirnya, pembaca menjadi bingung dan ikut menyerap pemahaman yang salah.
Oleh karena itu, sebagai penulis mulai saat ini lebih baik menggunakan kata perempuan supaya lebih terhormat.
Contoh-contoh Organisasi Perempuan
Organisasi-organisasi yang dibentuk oleh perempuan tidak dinamai sebagai organisasi wanita. Hal ini menyadarkan kita bahwa penggunaan kata perempuan lebih baik atau terhormat daripada kata wanita.
Berikut ini contoh-contoh organisasi perempuan:
- Komnas Perempuan
- Koalisi Perempuan Indonesia
- Perempuan Berkisah
Di dunia kepenulisan, pemilihan kata sangat penting untuk ditelusuri maknanya terlebih dahulu sebelum digunakan dalam sebuah tulisan. Anggapan yang salah terkait memaknai kata wanita dan perempuan harus dihilangkan.
Saya sangat berharap penulis-penulis akan lebih bijak menggunakan kata-kata dalam tulisan. Selain itu, sebuah tulisan dapat mencerminkan pemahaman penulis. Jika penulis menuliskan anggapan yang tidak benar adanya, pembaca dapat menyerap pemahaman itu.
Lalu, membagikannya kepada orang lain, dan berujung semakin banyak orang yang memiliki pemahaman yang salah.
Referensi:
oppal.co.id/lifestyle/kata-perempuan-dan-wanita-sejarah-dan-maknanya-dalam-bahasa-indonesia/
glints.com/id/lowongan/komunitas-perempuan-indonesia/
Penulis
Cindy May Siagian, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jambi, angkatan 25. Gemar menulis fiksi dan nonfiksi. Beberapa karya telah terbit di berbagai redaksi. Dapat terhubung melalui Instagram @la_bel2e
